Banda Aceh — Pemerintah Aceh memastikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat tetap berjalan optimal di tengah situasi bencana yang melanda sejumlah kabupaten/kota. Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, sebagai rumah sakit rujukan tertinggi di Aceh, telah mengambil langkah-langkah strategis dan terpadu dengan mengaktifkan pelayanan ekstra sejak awal bencana.
Hal tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, yang menegaskan bahwa kesiapsiagaan RSUDZA merupakan bagian penting dari kebijakan tanggap darurat yang ditekankan langsung oleh Gubernur Aceh.
“Sejak bencana melanda Aceh, RSUDZA telah mempersiapkan berbagai langkah pelayanan ekstra sebagai bentuk komitmen Pemerintah Aceh dalam melindungi keselamatan dan kesehatan masyarakat,” ujar Muhammad MTA.
Menurutnya, RSUDZA saat ini tetap mengoperasikan pelayanan subspesialistik secara lengkap, dengan dukungan sumber daya manusia subspesialistik yang siaga 24 jam, tujuh hari dalam seminggu. Seluruh layanan penunjang seperti laboratorium, radiologi, farmasi, gizi, laundry, CSSD, hingga pemulasaraan jenazah berjalan normal dan terkendali.
Selain itu, sistem utilitas rumah sakit yang meliputi listrik, air bersih, sanitasi, serta gas medis juga dipastikan dalam kondisi aman dan tersedia, sehingga pelayanan kesehatan tidak terganggu meski berada dalam situasi darurat.
Kirim Tim Medis ke Daerah Terdampak
Dalam menyikapi dampak bencana di sejumlah wilayah Aceh, manajemen RSUDZA tidak hanya fokus pada pelayanan di rumah sakit, tetapi juga melakukan aksi langsung ke lapangan. Sejak 29 November 2025, RSUDZA telah mengirimkan personel tenaga medis dan tenaga kesehatan bersama Tim Dinas Kesehatan Aceh ke berbagai daerah terdampak.
Wilayah tersebut meliputi Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang. Tim gabungan ini memberikan pelayanan kesehatan primer hingga spesialistik bagi para korban bencana.
Adapun layanan yang diberikan mencakup berbagai bidang spesialistik, antara lain emergency medik, kesehatan anak, bedah, anestesi, penyakit dalam, jantung, neurologi, kulit dan kelamin, THT, pulmonologi, keperawatan, serta layanan medis lainnya. Pelayanan ini, kata Muhammad MTA, masih terus berlangsung hingga saat ini sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Fasilitasi Medivac Udara dan Tambah Kapasitas IGD
Sebagai rumah sakit rujukan utama, RSUDZA juga menerima dan memfasilitasi rujukan medivac udara (ambulans udara) dari wilayah-wilayah yang akses daratnya terputus akibat kerusakan jalan dan jembatan. Proses ini dilakukan melalui koordinasi lintas sektor bersama Lanud, Kesdam, KKP, dan PSC.
Seiring meningkatnya jumlah pasien rujukan dan mulai pulihnya akses darat di beberapa wilayah, RSUDZA saat ini juga tengah melakukan pengembangan ruang transit Instalasi Gawat Darurat (IGD). Langkah ini bertujuan untuk mengatasi potensi over crowded serta mengurangi penumpukan pasien di IGD.
Tambah 120 Tempat Tidur Rawat Inap
Sebagai bentuk kesiapsiagaan lanjutan, RSUDZA turut menambah kapasitas rawat inap sebanyak 120 tempat tidur. Dengan penambahan ini, jumlah tempat tidur RSUDZA yang sebelumnya 839 bed per tahun 2025, kini meningkat menjadi 959 bed rawat inap.
Sejak bencana berlangsung, tercatat sekitar 146 pasien dari daerah terdampak telah dirujuk dan mendapatkan perawatan di RSUDZA Banda Aceh.
Komitmen Pemulihan dan Harapan Bersama
Muhammad MTA menambahkan bahwa berbagai langkah pemulihan pascabencana terus dilakukan secara berkelanjutan, di bawah supervisi ekstra dari Pemerintah Pusat, serta dengan dukungan lintas sektor di Aceh.
“Dalam berbagai kesempatan, Gubernur Aceh selalu berharap agar seluruh elemen masyarakat dapat terus bersatu, saling menguatkan, dan bersama-sama bangkit demi Aceh yang lebih baik,” tutupnya.
Pemerintah Aceh mengapresiasi kerja keras seluruh tenaga kesehatan dan pihak terkait yang telah berjuang tanpa kenal lelah demi keselamatan masyarakat di tengah situasi bencana.(**)






